Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Kabupaten.Solok.Net

Peta Wisata
Danau Singkarak
Danau Diatas
Danau Dibawah
Danau Talang

   Profil Kabupaten Solok
   Visi dan Misi
   Geografi
   Pemerintahan
   Struktur Organisasi
   Sambutan
  Selayang Pandang
  Potensi Daerah
  Arah Pembangunan
  Sarana Kota
  Peraturan
  Program Kerja





Deskripsi Raffles tersebut memang saksi sejarah bahwa Dataran Solok merupakan daerah pertanian yang potensial. Dobin menyebutkan beberapa daerah penting di Sumbar, yaitu Agam di kaki Gunung Singgalang, Lembali Singkarak-Solok di pinggiran Danau Singkarak dan lembah di sekitar Gunung Talang, serta lembah di 50 Kota. Catatan lain yang dikutip Dobin dan peneliti Belanda P.W. Korthals (1847), bahwa Solok daerah yang makrnur serta kaya dengan ternak kambing, kerbau dan kuda. Tetapi hal itu, kata Korthals, kini tidak diperhatikan lagi.

Solok, sejak ratusan tahun Silarn memang daerah strategis penghasil padi dan kopi. Untuk komoditi pertama, lebih banyak ke pantai timur (Riau), tetapi untuk yang terakhir menjadi komoditi intyernasional. Tidak jelas, kenapa produksi kopi tidak dibudidayakan lagi setelan Perang Paderi meletus, kecuali padi yang sampai sekarang masih menjadi trade mark kabupaten ini.

Potensi pertanian di daerah Solok ini, terutama di sekitar Gunung Talang, juga terungkap dalam "Seminar Agribisnis Kentang" yang diadakan di Dewan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Industri (DIPTI) April 1997 lalu. Dari penelitian Kadin Indonesia, ternyata Solok dan Malalak (Kab. Agam) yang paling sesuai untuk komoditi ini di seluruh Sumatera. Artinya, produk pertanian yang selama mi masih dumpor untuk industri consumer good di Indonesia sangat potensial dikembangkan dengan teknologi yang lebih modern.

Tidak heran, bila Pemda Kab. Solok memang menjadikan sektor ini untuk tetap menjadi andalan utama dan kelihatannya masih akan tetap menjadi andalan Kab. Solok. Persoalan yang utama untuk agribisnis ini adalah bagaimana menjadikan hasil-hasil pertanian mempunyai nilai tambah bagi masyarakat. Atau, dengan kalimat Gubernur Hasan Basri Durin, bagaimana menjadikan petani menjadi pengusaha tani sehingga tidak sekedar menanam, merawat dan kemudian menghasilkan.

Merubah kultur petani tradisional memang bukan pekerjaan mudah, apalagi karena masyarakat yang berada di sektor ini umumnya berpendidikan rendah. Beberapa pola yang dikembangkan pemerintah selama ini adalah dengan pola kemitraan dengan mengundang investor yang bergerak disektor agroindustri. Hal ini telah dilakukan oleh Indofood Frito-Lay Corp milik Salim Group untuk penanaman kentang di daerah Garut. Hal ini mengingat kebutuhan kentang untuk industri makanan terus meningkat rata-rata 2.000 ton per tahun.

Tahun 1994, kebutuhan Indofood hanya 5.301 ton, tetapi tahun 1997 ini akan mencapai 12.000 ton. Impor kentang Indonesia pada tahun 1991 sebesar 69,33 ton dengan nilal US$102,645 dan menjadi 308 ton tahun 1995 atau US$419,748.

Komoditi pertanian lain, seperti Markisah jenis Konyal asflora legularis) yang sudah cukup terkenal di Sumatera Barat, bahkan pemasarannya sampal ke pemasaran.

Di Kabupaten Solok, luas lahan markisah ini mencapai 6.000 hektar di beberapa kecamatan sekitar Gunung Talang. Yakni, Lembang Jaya, Lembah Gumanti, Payung Sakaki, dan Gunung Talang sendiri. Kenyataannya, komoditi ini juga masih sulit berkembang karena pasca-panen dalam pengertian agroindustri belum digarap.

Artinya, buah segar tersebut menjadi konsuinsi harian biasa saja sebagai buah segar. Itu pun belum dikemas dengan baik dan masih menjadi permainan para pedagang dengan sistem ijon.

Memasuki PJP II, kebijaksanaan pembangunan pertanian di Indonesia berorientasi kepada pengembangan sentra-sentra pengembangan komoditas unggu Ian berwawasan agribisnis dan agroindustri, serta berbasis pedesaan. Persoalan yang paling besar untuk masalah pertanin ini adalah manajemen pertanian itu sendiri yang harus diperbaiki, seperti yang pernah dikatakan Dekan Fak. Pertanian Prof. Muchus Muchtar. Misalnya, bagaimana memperbaiki standardisasi (SNI) sekaligus menyampaikannya ke bahasa petani sehingga komoditi tersebut betul-betul mempunyai nilai tambah bagi petani dan tidak sekedar selesai panen, termasuk melakukan diversifikasi.

Prospek pertanian untuk masa mendatang sangat besar. Hal ini tidak saja karena kebutuhan hasil pertanian sebanding dengan perkembangan penduduk. Data investasi di pasar modal pun, sektor-sektor yang tetap memperlihatkan trend naik adalah investasi sektor consumer good dan infrastruktur. Begitujuga prospek untuk Kabupaten Solok, karena komoditi pertanian ini berbeda dengan industri yang bisa dipindah-pindah dan direlokasi, tetapi untuk pertanian tidak bisa, karena hasil produk tergantung kepada tempat di mana komoditi tersebut dihasilkan.

Pemda Solok menyadari hal ini, sehingga cara yang dilakukan adalah mengkaji ulang kembali semua program-program pertanian yang telah dijalankan beberapa tahun terakhir serta bagaimana tingkat keberhasilannya. Ternyata, masalah utamanya adalah bahwa mekanisme yang dilakukan untuk bidang pertanian ini sering tidak tepat, dan kadang seperti dipaksakan. Akibatnya, banyak program yang gagal dan tidak berhasil sama sekali. Hal ini, seperti kata Bupati Gamawan, tidak bisa hanya disalahkan petani karena kurangnya wawasan, tetapi bagaimana program-program tersebut bisa sesuai dan berarti bagi petani itu sendiri, sehingga faktor manajemen termasuk penyumbang kegagalan tersebut.

Selain lahan untuk pertanian tanaman pangan 102.989 hektar (data 1995), kabupaten ini juga mempunyai sebelas komoditi perkebunan, terutarna sekali kopi, karet, kelapa dan casia vera yang produksinya di atas 2.000 ton pertahun.

Bahkan, untuk casia verra, tahun lalu tercatat 4.024 ton, disusul komoditi 'historis' kopi 3.497 ton dan karet serta kelapa masing-masing 2.428 ton dan 2.895 ton. Tetapi, tingkat produktivitas untuk ke sebelas komoditi tersebut hanya berkisar 0,05 (cengkeh) sampai 2,28 (casiaverra). Artinya, tingkat produktivitas ini belum maksimal dan sebenarnya bisa.lebih ditingkatkan. Saat ml, Kab. Solok mulai dengan era baru perkebunan dengan dibukanya 57.000 hektar untuk kelapa Sawit di Solok Selatan.

Pada sub sektor perkebunan, Solok bukanlah daerah yang sama sekali baru dijamah oleh usaha perkebunan besar. Sejak zaman Belanda di situ sudah tumbuh sejumlah perkebunan besar, terutama di Solok bagian Selatan. Kini tercatat sejumlah PBSN (Perkebunan Besar Swasta Nasional) seperti Tidar Kerinci Agung, PTP Nusantara (d/h PT Perkebunan 8), Pecconina Baru. Golden Arms, Mitra Kerinci dan sebagainya. Komoditas yang diusahakan itu antara lain karet, teh dan kelapa sawit.


kembali ke halaman utama




designed by |mimbarminang.com
Copyright@2000, All rights reserved.